Kamis, 08 Agustus 2013

(Video) Shalat Qiyam Ramadhan Jutaan Rakyat Mesir “Tolak Kudeta” di Rab’a

Jutaan rakyat Mesir yang telah berhari-hari berdemonstrasi menolak kudeta, melakukan shalat qiyam Ramadhan (tarawih) di Rab’a, 5 Agustus 2013.
Video dapat Anda lihat pada laman berikut.

Dr. Isham Iryan: Upaya Menyeret Mesir kepada Perang Saudara Pasti Gagal

Dr. Isham Iryan menuliskan dalam akun facebooknya bahwa upaya menyeret Mesir kepada perang saudara pasti gagal.
Beberapa bulan silam, Amerika mengumumkan bahwa perang saudara di dunia Arab akan segera selesai sejalan dengan dimulainya proses demokratisasi.
Banyak pihak yang khawatir kehilangan kepentingannya seperti pedagang perang, politikus, intelijen, media, dan lain sebagainya. Mereka berusaha menarik sejarah ke belakang. Sejarah peperangan. Caranya dengan menyebarkan lagi kecemasan dan ketakutan.
Yang jelas, bangsa Arab akan memenangkan pertempuran melawan hegemoni Amerika, penjajahan asing, dan penguasa yang otoriter.
Oleh karena itu, kepada media yang dikerahkan untuk menciptakan suasana tidak kondusif, dan juga kepada para pedagang perang, saya katakan bahwa kalian tidak akan bisa menipu kami, dan memalingkan kami dari masalah yang sebenarnya.
Yaitu kemerdekaan bangsa, independensi yang sebenarnya, pembangunan yang mandiri untuk menciptakan swasembada Arab, solidaritas dan kesatuan masyarakat yang bisa mencegah terjadinya pertikaian.
Kami akan mendirikan negara modern, demokratis, konstitusional, nasionalisme dengan referensi Islam, menerapkan syariat Islam, dan bisa memberikan sumbangsih dalam membangun peradaban kemanusiaan sejajar dengan bangsa-bangsa yang lain.

Di Alexandria, Preman-Preman Kudeta Membakar Al-Qur’an

Rabu dini hari kemarin, puluhan preman yang dibacking beberapa polisi di bawah pimpinan Nashir Abdu (intelijen Alexandria) menyerang masjid Qaid Ibrahim.
Tidak hanya menyerang, mereka juga membakar mushaf Al-Qur’an dan melukai beberapa penentang kudeta. Peristiwa itu terjadi setelah para penentang kudeta selesai shalat tahajjud.
Korban yang jatuh di antaranya, satu orang meninggal dunia, puluhan anak yang terluka akibat tembakan senjata dan tikaman senjata tajam.
Kejadian ini tentu mendapat kecaman banyak pihak. Misalnya Dr. Hasan Barnas mantan wakil gubernur Alexandria yang mengatakan bahwa kekuatan kudeta tidak hanya menyerang para penentangnya, tapi juga menyerang institusi keagamaan seperti masjid dan mushaf Al-Qur’an. Kejahatannya tidak lagi bersifat politis, tapi juga penistaan agama.
Beliau menambahkan bahwa kepolisian yang mengatur semua itu telah belajar dari orang-orang Yahudi.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/09/37756/di-alexandria-preman-preman-kudeta-membakar-al-quran/#ixzz2bRBrH6O4

Lagi-lagi Terjadi Salah Tuduhan kepada Khairat Syathir

Sarah, puteri Khairat Syathir, menuturkan bahwa kemarin ayahnya yang berada di dalam tahanan untuk masa penyidikan dihadapkan kepada tuduhan melarikan diri dari penjara Nathrun saat terjadi kerusuhan revolusi 25 Januari menggulingkan Mubarak.
Menurut Sarah, penyidik itu hanya orang suruhan saja. Dia tidak tahu yang sesungguhnya terjadi. “Tuduhan itu sungguh sebuah tuduhan yang dibuat-buat. Ayah mendekam di penjara Mazra’ah, di Turra. Bukan di Nathrun”.
Keluarnya juga bukan karena melarikan diri pada bulan Januari. Beliau keluar pada bulan Maret, karena mendapatkan pengampunan setelah dipenjara selama 5 tahun.
Kesalahan fatal ini menunjukkan bahwa tuduhan yang dihadapkan kepada tahanan politik semuanya mengada-ada dan bohong belaka.

Kementerian Dalam Negeri: Tersangka Pelempar Anak Bukan Ikhwan

Pejabat di kantor kepolisian kota Alexandria menyatakan bahwa pihaknya telah berhasil menangkap pelaku pembunuhan pada Ahad 7 Juli sore kemarin. Pelaku terkait dengan peristiwa pembunuhan yang dikait-kaitkan dengan demonstran pendukung Presiden Mursi. Pelaku membunuh dengan cara melempar para korban dari atas gedung apartemen di kawasan Sidi Jabir.
Setelah kejadian tersebut, disebarkanlah isu bahwa para demonstran pendukung Mursi bersifat anarkis, bahkan membunuh anak-anak dengan cara yang sangat kejam. Tentulah banyak pemimpin IM menyangkal kejadian itu kalau disangkakan kepada aktivis IM. Karena demonstrasi yang mereka lakukan bersifat damai, artinya petugas keamanan yang kadang bersifat represif pun tidak bisa memancing damainya demonstrasi untuk berubah anarkis. Apalagi kalau sampai membunuh anak-anak yang jelas tidak berdosa.
Terbukti, setelah polisi berhasil menangkap pelaku pembunuhan tersebut, pelaku tidak ada sangkut-pautnya dengan IM. Rupanya orang tersebut terkait dengan jamaah jihadiyah yang berhaluan keras. Bahkan diketahui pula bahwa orang tersebut membawa bendera yang berlambang gerakan “Al-Qaeda”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/07/08/36465/kementerian-dalam-negeri-tersangka-pelempar-anak-bukan-ikhwan/#ixzz2bRAGmxe1

Penghargaan Pelajar Berprestasi di Tengah Demonstrasi

Demonstrasi tidak mesti identik dengan kekacauan, bakar-bakar an, dan kekerasan. Nilai-nilai peradaban pun bisa disisipkan dalam berdemo. Setidaknya hal itu bisa dilihat dalam demonstrasi Rab’a Adawiyah yang mendukung pemerintahan Mursi yang sah.
Demonstrasi yang sudah berlangsung dua pekan itu membuat pendemo betah karena diisi dengan banyak kegiatan berkualitas. Kajian ilmiah, wejangan ruhaniyah, dan sebagainya.
Satu lagi, kali ini para demonstran memberikan penghargaan kepada lulusan-lulusan terbaik SLTA umum dan Al-Azhar. Penghargaan diberikan dengan konser nasyid memuji mereka, dan juga dengan doa agar ilmu mereka bermanfaat untuk agama dan negara.
Saat diwawancarai, salah seorang dari lulusan terbaik tersebut menekankan, “Kebahagiaan saya baru lengkap jika Presiden Mursi kembali memerintah.”
Bahkan pelajar yang lain menyatakan akan memboikot acara pemberian penghargaan yang diadakan menteri pendidikan, karena menteri terlibat dalam kudeta.

MayJend Abdul Hamid Imran: As-Sisi Mengakui Kejahatannya

Washington Post memuat sebuah wawancara eksklusif dengan As-Sisi. Wawancara tersebut telah memancing banyak analisis pengamat. Di antaranya pengamat strategi, Mayor Jenderal Abdul Hamid Imran. Menurutnya, As-Sisi ingin orang-orang Amerika Serikat (AS) merasakan apa yang sedang dirasakannya. Misalnya dia kecewa dengan Obama yang tidak kunjung menghubunginya. Tapi dalam posisi apakah Obama menghubunginya?
Orang AS memandang hal ini secara benar. Mereka melihat As-Sisi tidak lebih sebagai menteri pertahanan, yang tidak tepat untuk dihubungi oleh Obama. Yang tepat menghubunginya tentu menteri pertahanan AS.
Kekecewaannya itu bahkan telah membuka isi hatinya, ingin dianggap sebagai penguasa Mesir saat ini. Selain membuka kondisinya yang sedang kesulitan hingga ingin segera dibantu oleh Obama.
Kesulitan yang dialami penguasa kudeta ini telihat juga dari mundurnya banyak agenda dalam menghadapi para demonstran. Di antara sebabnya adalah terus bertambahnya jumlah demonstran baik di Rab’ah atau tempat lainnya. Dia khwatir sewaktu-waktu rakyat akan bereaksi keras atas aksi pembantaian yang baru dilakukannya.
Abdul Hamid Imran juga tidak setuju dengan tindakan As-Sisi meminta dukungan AS. Menurut beliau, tindakannya mirip dengan orang yang merampas sebuah flat, kemudian mengajak pemiliknya untuk bernegosiasi. Yang benar adalah kembalikan dulu flatnya, baru kemudian saling memaafkan dan bernegosiasi.
As-Sisi merasa sebagai pihak yang paling kuat dan memimpin. Sebenarnya dia adalah orang yang dimanfaatkan, bukan memimpin. Israel memanfaatkannya untuk kepentingan penjajahannya; kaum liberal memanfaatkannya untuk memerangi aktifis Islam.
Terakhir, beliau menekankan, apapun bisa dilakukan oleh para pengkudeta. Banyak hal yang mempengaruhi mereka; merasa paling kuat, kebodohan, merasa telah berkhianat sehingga khawatir akan dikhianati pihak lain terutama oleh orang terdekatnya, dan sebagainya.
Harga yang dibayar akan sangat mahal, jika mereka mengikuti kecongkakan mereka. Tapi setiap kali dia berbuat kesalahan, jumlah penentangnya akan kian banyak.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/06/37666/mayjend-abdul-hamid-imran-as-sisi-mengakui-kejahatannya/#ixzz2bR7rTJe8