Minggu, 27 Oktober 2013

Kisah Seorang Gadis Bersama Presiden Mursi

Seorang gadis menceritakan pengalamanannya melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama Presiden Mursi di sebuah masjid di Tajammu’ Khamis, Kairo.
“Sepanjang bulan Juni yang lalu, aku selalu melaksanakan shalat subuh bersama Presiden Mursi di sebuah masjid di Tajammu’ Khamis.
Biasanya, tempat jamaah ibu-ibu di masjid itu tidak dibuka pada waktu shalat subuh. Maka aku shalat di bagian jamaah laki-laki paling belakang. Aku ingin sekali melihat Presiden Mursi secara langsung. Aku dengar beliau selalu melaksanakan shalat berjamaah di sini.
Di hari pertama, setelah shalat aku lihat Presiden Mursi duduk setelah selesai shalat subuh. Aku perhatikan beliau berdzikir dan membaca Al-Qur’an.
Tidak lama kemudian, datang seorang pengawal pribadi Presiden mendekatiku. Dia memulai perbincangan, “Assalamu ‘alaikum, Mbak.”
“Wa’alikumussalam.”
“Mbak duduk di sini, ada perlu?” dia mulai menyelidiku.
Aku menjawab, “Perlu? Apakah duduk di masjid dilarang?”
Dia merasa bersalah, kemudian berkata lagi, “Oh maaf, bukan maksudku seperti itu. Tadi Presiden memerintahkanku untuk bertanya kepada Mbak. Kalau-kalau Mbak ada perlu.”
Aku menjawab sekenanya, “Perlu, perlu apa?”
Dia menerangkan, “Iya, Presiden melihat Mbak duduk di sini. Dia ingin tanya, apakah Mbak ada hal yang perlu dibicarakan dengan beliau. Kalau ada, beliau mempersilahkan Mbak menemuinya.”
Aku menjawab, “Nggak. Nggak ada perlu apa-apa. Katakan pada presiden aku memang ingin duduk di sini, untuk tilawah beberapa halaman saja.”
Perbincangan itu pun berakhir. Pengawal itu mengatakan, “Oke, kalau begitu.” Lalu dia pergi.
Setelah itu aku lihat, Presiden Mursi menengok kepadaku dan tersenyum hormat. Aku pun membalas dengan senyum dan mengangkat tangan tanda hormat. Lalu aku pergi meninggalkan masjid. Aku sungguh merindukan sosok itu kembali di Mesir.”

Mungkinkah Presiden Mursi Mendapat Nobel Perdamaian?

Beberapa orang aktivis saat ini mulai melancarkan program menjadikan Presiden Mursi mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Di antara aktivis tersebut adalah Hamdi Syafiq. Dia menuliskan dalam akun faacebooknya, Jumat (25/10/2013), sangat bahagia berkesempatan menjadi orang yang pertama kali mengusulkan ide tersebut.
Syafiq mengajak seluruh aktivis kemanusiaan di dunia internasional untuk membantu keberhasilan proyek ini.
Menurut Syafiq, ada banyak alasan yang bisa membuat Presiden Mursi layak mendapatkan penghargaan tersebut. Kita coba bandingkan dengan peraih lain, seperti Nelson Mandella. Mandella meraih Nobel karena menjadi tahanan politik, Presiden Mursi pun saat ini adalah tahanan politik paling terkenal di dunia. Bahkan Presiden Mursi lebih berhak lagi, karena Mandella hanya sekadar tokoh pemimpin politik tanpa jabatan, sedangkan Mursi adalah seorang yang mempunyai jabatan presiden.
Presiden Mursi juga sudah langganan ditangkap dan ditahan pihak pemerintah sepanjang hidupnya. Setelah rakyat memilihnya sebagai presiden, beliau digulingkan, diculik, dan saat ini tidak diketahui tempat penahanannya.
Presiden Mursi saat ini menjadi lambang keteguhan dalam mempertahankan prinsip. Beliau selalu mendapatkan tekanan untuk memaksanya melepas jabatan, tapi hingga kini tetap teguh memegangnya.
Kalau kita bandingkan dengan peraih lain dari Yaman, Tawakkul Karman, dia mendapatkan Nobel Perdamaian karena aktifnya dalam perjuangan reformasi politik di Yaman melawan rejim Abdullah Ali Shalih. Kita tidak ragu mengatakan bahwa peran Presiden Mursi dalam reformasi Mesir jauh lebih besar dari pada peran Karman di Yaman. Peran ini beliau mainkan sebelum, saat dan setelah jatuhnya rejim Mubarak.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/10/25/41130/mungkinkah-presiden-mursi-mendapat-nobel-perdamaian/#ixzz2iz5EtXKu

122 Negara Keluar Sidang Saat Menlu Kudeta Mesir Sampaikan Sambutan

Saat ini sedang ramai perbincangan tentang suasana sambutan menlu kudeta Mesir, Nabil Fahmi, dalam rentetan sidang Majelis Umum PBB dilaksanakan antara 16 hingga 26 Oktober ini. Ketika Nabil menyampaikan sambutannya, terlihat banyak sekali kursi perwakilan negara yang kosong. Ada 122 perwakilan negara yang tidak mengikuti sidang tersebut.
Oleh karena itu, Nabil hanya menyampaikan sambutannya di depan beberapa negara yang tersisa di ruangan sidang. Kebanyakannya adalah negara-negara yang mendukung kudeta. Di antaranya Saudi, Iran, Israel, Emirat, Kuwait, Suriah, Benin, Togo, Gambia, dan Kroasia.
Suasana sangat berbeda ketika dalam kesempatan yang sama tahun lalu, Presiden Mursi mengetuai rombongan delegasi Mesir. Beliau mendapat sambutan yang sangat hangat dari para perwakilan negara-negara. Bahkan tercatat tidak ada satu pun negara yang absen dalam sidang pembacaan sambutan Presiden Mursi saat itu.

Korban Demonstrasi Damai 6 Oktober Terus Berjatuhan

Minggu (6/10) kembali terjadi demonstrasi besar-besaran menentang pemerintahan kudeta mesir dihampir seluruh wilayah Mesir. Para demonstran memenuhi tempat-tempat berkumpul di seluruh Mesir.
Namun, lagi-lagi pihak kudeta menghadapi demonstrasi damai ini dengan tindakan brutal dan pembantaian. Sampai berita ini diturunkan, 28 orang syahid dan puluhan lainnya terluka dan korban masih terus bertambah.

Pengamat Militer: Mesir Hanya Aman Jika Presiden Mursi Kembali Memimpin

Brigadir Shafwat Zayyat, seorang pakar dalam politik dan militer, mengomentari kondisi keamanan yang tidak kunjung normal di Mesir. Menurutnya, adanya seorang presiden dari kalangan sipil yang terpilih, dan parlemen yang diisi dari kalangan sipil adalah satu-satunya solusi untuk mengeluarkan negara dari masalah Mesir.
Karena presiden dan parlemen inilah yang diberi wewenang dalam menentukan cara menghadapi krisis-krisis ini. Hal ini beliau sampaikan saat diwawancarai oleh stasiun Aljazeera, Senin (7/10/2013).
Zayyat juga menyebutkan bahwa Mesir baru akan aman jika dipimpin oleh seorang presiden yang dipilih dalam sebuah pemilu yang bersih. Tentang beredarnya isu bahwa adanya Islam politik membahayakan keamanan negara, beliau menyebutnya sebagai sebuah isu yang tidak berdasar. Karena bahaya yang sebenarnya adalah jika militer sibuk berpolitik, sehingga tidak lagi memperhatikan keamanan perbatasan.

Chomsky: Buktikan Segera, Mursi Akan Kembali

Penulis dan pemikir Amerika, Noam Chomsky menyatakan bahwa saat ini sedang dilakukan persiapan dan komunikasi untuk menyiapkan kembalinya Presiden Mursi memerintah Mesir. Dalam sebuah ceramahnya di Universitas California, seperti yang diberitakan situs akhbarak.net edisi Selasa (15/10/2013), beliau memastikan kebenaran analisisnya selama ini, karena sumber-sumber informasinya dekat dengan pusat pengambilan keputusan.
Menurutnya, selain As-Sisi terlihat tidak bisa lagi mencegah kebocoran rahasia-rahasianya, sekarang sudah terjadi pertikaian dalam internal militer sendiri. Baik secara tertutup ataupun terbuka dan diketahui oleh publik. Sebelumnya, Chomsky juga sudah mengatakan bahwa jatuhnya kekuasaan kudeta baru akan dimulai jika terjadi pertikaian di internal mereka. Dan hal itu sekarang sudah diketahui semua orang.
Beliau membela diri ketika dituduh lebih memihak kepada Presiden Mursi, “Aku dituduh lebih mencintai dan memihak Presiden Mursi. Bahkan ada salah seorang teman menuduhku menjadi agen Ikhwanul Muslimin. Maka saat ini aku ingin menjawab, bahwa benar aku mencintai Presiden Mursi karena dialah presiden yang sah. Dia seorang presiden yang tidak terbukti sama sekali melakukan korupsi. Tapi walaupun demikian, aku bukanlah seorang pengikut atau anggota Ikhwanul Muslimin. Bahkan seorang muslim pun tidak. Aku aku sangat benci orang-orang yang perbuatannya menyalahi perkataannya.”
Chomsky juga mengatakan bahwa dirinya sering berkomunikasi dengan Muhammad Hasanain Haikal, seorang kolumnis dan jurnalis senior di Mesir, yang mendukung kudeta militer. Suatu kali Haikal bertanya kepadaku tentang sebab aku menulis artikel yang mengatakan bahwa Presiden Mursi akan kembali memimpin Mesir. Haikal juga menanyakan bukti yang membuat Chomsky bisa demikian yakin dengan hal tersebut.
Chomsky menjawab bahwa pihak pengkudeta telah memberi Ikhwan semua tawaran, termasuk menjadi perdana menteri, tapi Ikhwan selalu menolak. Maka kira-kira apa tawaran tersisa yang akan diberikan? Tawaran itu pasti kembalinya Presiden Mursi memimpin Mesir.
Chomsky sangat menyayangkan sikap Haikal. Menurutnya, Haikal telah mencoreng sejarah panjangnya, bahkan di akhir-akhir masa hidupnya. Sejarah akan menulisnya hanya sebagai penyebab meninggalnya ribuan rakyat Mesir.
Chomsky mengakhiri ceramahnya dengan mengatakan, “Di ruangan ini, aku katakan bahwa Presiden Mursi akan kembali. Dia akan menjadi negarawan Mesir. Mesir juga akan menjadi negara yang lebih kuat lagi. Para korban pembantaian Rab’ah Adawiyah adalah bayaran yang telah dipersembahkan demi kebebasan rakyat Mesir yang jumlahnya sekitar 100 juta jiwa. Dunia tidak mau memberi mereka kebebasan, sehingga mereka pun melakukan revolusi yang suci. Buktikan kebenaran perkataanku ini sebentar lagi.”

Putera Beltagi Menceritakan Kondisi Ayahnya di Penjara

Husam Beltagi, putera bungsu Muhammad Beltagi mengatakan, “Kunjunganku yang terakhir kepada ayah hanya berlangsung 2 menit. Padahal aturan membolehkan kunjungan dua jam.” Hal ini ditulisnya dalam akun facebooknya hari ini, Ahad (29/9/2013).
Menurutnya, saat ini ayahnya ditempatkan di sebuah ruangan kecil di bangsal penyiksaan. Beliau sendirian di ruang itu. Hanya keluar ruangan kalau diperiksa. Bahkan beliau juga tidak diperkenankan melaksanakan shalat Jumat dan shalat jamaah.
Husam menceritakan bahwa ayahnya menghabiskan waktu di ruangannya dengan bertasbih, istighfar, dan mendoakan umat Islam, memohon kemenangan, dan mendoakan para syuhada, termasuk puterinya Asmaa.
Terakhir, Beltagi juga mengirimkan pesan ketabahan kepada seluruh rakyat Mesir. Beliau meminta agar perlawanan terhadap para pengkhianat tetap dilakukan hingga mendapatkan kemenangan.