Minggu, 27 Oktober 2013

Hari Pertama Belajar, Demonstrasi di Setiap Kampus

Hari ini Ahad (22/9/2013) dimulai proses belajar di seluruh kampus secara serempak. Namun demikian, hari pertama ini malah dijadikan untuk berdemonstrasi di seluruh Mesir.
Di Benha, Universitas Benha menjadi layaknya barak militer. Komplek kampus dibagi menjadi 8 daerah militer. Setiap daerah dipimpin oleh seorang perwira militer dengan pangkat kolonel. Terdapat juga dua regu militer yang dipersenjatai dengan tongkat karet.
Di seluruh komplek universitas ini telah dipasang 35 kamera CCTV, 25 pintu pemeriksaan elektronik, dan 25 cermin untuk memeriksa bagian bawah mobil. Di luar, jalan-jalan menuju kampus juga telah dijaga oleh kepolisian tingkat propinsi.
Sedangkan di Zaqaziq, mahasiswa melakukan demonstrasi. Namun mereka diserang oleh sekelompok preman sehingga terjatuh beberapa korban luka.
Di Suez, mahasiswa melakukan demonstrasi berupa pawai. Sedangkan di Almenya, ribuan mahasiswa melakukan pawai dengan mengangkat poster-poster yang menentang kejahatan-kejahatan militer terhadap rakyat Mesir, menuntut diberhentikannya pemerintahan kudeta dan diajukannya pimpinan militer ke pengadilan internasional.
Seluruh mahasiswa menolak segala bentuk upaya membungkam pendapat rakyat, dan menyatakan akan tetap melanjutkan perjuangan mereka hingga pemerintah kudeta berakhir.

Tindak Kekerasan Semakin Menguatkan Tuntutan Mahasiswa

Suhaib Abdul Maqshud, jurr bicara mahasiswa Ikhwanul Muslimin menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan militer kudeta hanya akan menguatkan tuntutan mahasiswa. Demikian status yang ditulis di akun facebooknya hari ini, Selasa (22/10/2013).
Penguasa kudeta hingga kini masih saja melanggar hak-hak, mengancam masa depan, menculik, dan mengurung mahasiswa yang menentang kudeta militer. Menurut Suhaib, hal ini tidak akan menguntungkan penguasa kudeta, bahkan sebaliknya akan membangkitkan semangat mereka dalam menuntut dan melancarkan aksi-aksi demonstrasi. Karena darah para syuhada menjadi bahan bakar demonstrasi mereka. Semakin banyak korban, semakin besar aksi mereka. Hal tersebut akan terus berlangsung hingga pemerintah kudeta diruntuhkan.
Akhir pekan ini, terjadi banyak aksi yang dilakukan mahasiswa di berbagai universitas di provinsi-provinsi Mesir. Demonstari terbesar terjadi di Universitas Al-Azhar, Kairo. Di Al-Azhar bahkan sempat terjadi aksi pembubaran paksa yang menjatuhkan banyak korban.

Satu Orang Mahasiswa Kembali Meninggal di Manshurah

Muhammad Jalal Orabi, seorang mahasiswa tahun pertama Fakultas Hukum Universitas Manshurah meninggal dunia Senin (7/10/2013) sore di Manshurah.
Orabi meninggal setelah ditusuk dengan senjata tajam oleh preman pendukung kudeta yang bekerja sama dengan kepolisian dalam menghadapi aksi penentangan kudeta. Peristiwa tersebut terjadi ketika para mahasiswa melakukan demonstrasi pawai dimulai dari gerbang Fakultas Kedokteran dan bergerak sepanjang jalan Jihan.
Pawai mereka dihadang oleh sekelompok preman dan polisi, hingga menyebabkan satu meninggal dan 35 orang lainnya terluka. Sebagian mahasiswa terluka ketika dikejar polisi hingga ke dalam kampus universitas. Karena pihak universitas mengijinkan polisi melakukan pengejaran demonstran hingga ke dalam kampus.

Perempuan Mesir Berdemonstrasi, Protes Terhadap Pemerintahan Kudeta

Di beberapa provinsi di Mesir telah terjadi penangkapan terhadap kaum perempuan oleh militer pemerintahan kudeta setempat. Melihat hal itu terjadi, sontak kaum perempuan Mesir dari berbagai kalangan melakukan demonstrasi sebagai bentuk protes terhadap tindakan militer pemerintahan kudeta tersebut. Mereka berdemonstrasi untuk membela hak sesama mereka dan melawan tindakan militer pemerintahan kudeta yang sewenang-wenang.
Dalam demonstrasi yang dilakukan Sabtu (14/9/2013) tersebut, mereka juga mengusung simbol R4BIA yang merupakan simbol solidaritas terhadap peristiwa pembantaian di Rab’ah Adawiyah sebulan yang lalu. Simbol ini pertama kali diperkenalkan oleh PM Turki Recep Tayip Erdogan. Demonstrasi kaum perempuan Mesir ini sendiri dilakukan tepat sebulan setelah peristiwa pembantaian itu terjadi.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/15/39279/perempuan-mesir-berdemonstrasi-protes-terhadap-pemerintahan-kudeta/#ixzz2iz8On063

Pelatih Mendukung R4BIA, Ghana Pun Menang Telak

Para aktivis jejaring sosial facebook saat ini sedang banyak membincangkan foto solidaritas rakyat Ghana terhadap perjuangan menentang kudeta di Mesir. Di antara foto tersebut menunjukkan kru pelatih timnas Ghana yang mengangkat tangan dengan simbol R4BIA. Foto tersebut diambil sebelum pertandingan melawan timnas Mesir dalam penyisihan piala dunia Brazil, Selasa (15/10/2013) kemarin, di Kumasi, Ghana.
Selain foto tersebut, ada juga foto para pendukung Ghana yang membawa spanduk dan kaos berwarna kuning bertuliskan R4BIA. Pertandingan Mesir-Ghana tersebut berakhir dengan kemenangan Ghana 6-1. Kekalahan Mesir ini memancing kritik keras dari rakyat Mesir. Pengamat politik, Hatim Azam misalnya, mengatakan bahwa As-Sisi memang memerangi semua yang bersifat muntakhab (pilihan). Kemarin presiden muntakhab (hasil pemilu), sekarang muntakhab Mesir (timnas Mesir). Kudeta memang selalu membawa nahas.
Padahal banyak pengamat bola melihat kondisi timnas Mesir jauh lebih baik dan ideal daripada timnas Ghana. Sebelum pertandingan, pengamat bola Mesir, Hazim Imam dan Mido menyampaikan di stasiun Aljazeera +8 bahwa banyak anggota timnas Ghana yang berhalangan main pada pertandingan ini. Sedangkan timnas Mesir tampil dengan skuad yang sempurna.

Presiden Ghana: As-Sisi Berusaha Menyuap Timnas Negaranya

Presiden Ghana, John Dramani Mahama, menyebutkan bahwa As-Sisi berusaha menyuap para pemain Timnas Ghana agar mereka mengalah saat menghadapi timnas Mesir dalam pertandingan penyisihan Piala Dunia beberapa waktu mendatang di Kairo.
Menurutnya, usaha penyuapan itu dilakukan melalui kedutaan besar Mesir di Accra. Hal ini menyusul kekalahan timnas Mesir saat 6-1 saat melawan timnas Ghana di Kumasi, 15 Oktober yang lalu. Kekalahan ini banyak mendapatkan kritikan publik. Padahal pemerintah kudeta di Mesir ingin menjadikan kemenangan timnasnya sebagai salah satu keberhasilan pemerintah.
Menyikapi tindakan Mesir ini, Mahama menyatakan akan melaporkan kasus usaha penyuapan ini ke persatuan sepak bola Afrika (CAF) sesegera mungkin. Bahkan pihaknya juga mengancam dubes Mesir di Accra, “Dia akan pulang ke Kairo dengan berjalan kaki, jika tidak menghentikan usaha penyuapan ini.”
Di pihak lain, hari ini, Ahad (27/10/2013), penulis sejarah Mesir, Muhammad Jawadi menuliskan di akun twitternya bahwa As-Sisi menyiapkan US$ 12 milyar untuk menyuap timnas Ghana sehingga lolos ke putaran final Piala Dunia di Brazil. Menurutnya, dana sebesar itu tidaklah seberapa dibanding dengan keuntungan mendapatkan pengakuan rakyat terhadap penguasa kudeta, atau minimal menina-bobokkan rakyat Mesir yang akan mengikuti dan mendukung timnasnya sehingga melupakan demonstrasi.

Para Penentang Kudeta Alami Keracunan Massal di Penjara

Seorang aktivis HAM, Muhammad Abul Azam, hari ini Ahad (27/10/2013), menyatakan telah terjadi keracunan massal pada para tahanan di penjara Kamp Abu Salim, di Bani Suwaif.
Tokoh yang termasuk pendiri gerakan Lawyer Anti Kudeta ini mengabarkan bahwa keracunan tersebut terjadi setelah pihak penjara memberikan makanan yang ternyata mengandung racun, atau sengaja dicampur racun.
Abul Azam meminta lembaga-lembaga HAM untuk segera melakukan intervensi dan menyelidiki bagaimana sebenarnya perlakuan yang diterima para tahanan penentang kudeta itu di penjara. Karena saat ini banyak sekali berita yang mengabarkan bahwa perlakuan terhadap mereka tidak manusiawi.