Kamis, 29 Agustus 2013

Tuntutan Pencabutan Kewarga-negaraan Pimpinan Kudeta

Dr. Hamid Shidiq, seorang peneliti di Pusat Studi Sosial dan Pidana, mengajukan tuntutan untuk mencabut kewarga-negaraan beberapa orang pimpinan kudeta, di Pengadilan Tata Usaha Negara, Kairo.
Di antara pimpinan kudeta yang dituntut adalah As-Sisi (menteri pertahanan), Adly Mansur (presiden sementara), dan Muhammad Ibrahim (menteri dalam negeri)
Dalam tuntutan tersebut, dikatakan bahwa As-Sisi dilahirkan dari seorang ibu berdarah Yahudi Maroko bernama Malikah Titani yang dilahirkan di Maroko. Dia menanggalkan kewarga-negaraan Maroko demi mendapatkan kewarga-negaraan Mesir pada tahun 1958.
Dalam surat tuntutan bernomor 67434 tersebut dikatakan juga bahwa ibu kandung Adly Mansur adalah seorang wanita berkewargaa-negaraan Amerika.
Sedangkan Muhammad Ibrahim telah menculik Presiden Mursi dan memaksanya untuk mengundurkan diri, padahal tidak ada surat perintah penggulingan presiden yang dikeluarkan dewan tinggi militer. Kalau memang ada sebuah keputusan penggulingan, surat tersebut harus diterbitkan dalam sebuah surat kabar resmi.

KTT (Kebohongan Tingkat Tinggi)

Berbohong, walaupun kecil, sudah termasuk dosa besar. Bahkan berbohong termasuk dosa yang paling dekat dengan kekafiran. Allah swt. berfirman “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” [An-Nahl; 105].
Semakin besar isi dan akibatnya maka semakin besar dosanya. Rasulullah saw. Bersabda, “Ada tiga orang yang tidak disucikan, tidak dilihat oleh Allah swt. dan mendapatkan siksaan yang pedih di hari kiamat: orang tua yang berzina, raja yang berbohong, dan penanggung yang sombong.”
Jika orang yang berbohong adalah seorang raja atau pemimpin negara, maka kebohongannya akan membahayakan seluruh rakyatnya. Jabatannya pun menjadi hina. Kebohongan seorang yang berkuasa berbeda dengan kebohongan orang lemah yang mengkhawatirkan dirinya; berbeda dengan kebohongan antar personal. Bahaya kebohongan seseorang sesuai dengan kedudukannya.
Ketika kebohongan itu dilakukan kepada hak, nyawa, kehormatan, dan kebebasan orang lain, maka hal itu disebut sebagai kesaksian palsu. Rasulullah saw. Menggolongkan kesaksian palsu termasuk dosa yang paling besar, jika hal itu merugikan orang lain, walaupun satu orang saja. Bagaimana kiranya jika kebohongan itu merugikan ribuan, ratusan ribu, atau bahkan jutaan orang, tentu tidak bisa dibayangkan dosanya.
Saat ini banyak sekali tuduhan bohong yang diarahkan kepada Ikhwanul Muslimin. Misalnya tuduhan bahwa mereka adalah kelompok teroris. Penguasa Mesir saat ini memberantas jamaah ini dengan dalih memerangi teroris. Para penguasa Saudi pun melakukan hal yang sama. Bahkan mereka mengerahkan apa saja untuk memerangi Ikhwan. Di Suriah, penguasa menindas mereka sejak beberapa dekade yang lalu. Penguasa Emirates bahkan bersumpah akan menghabisi jamaah ini dengan segenap yang mereka miliki. Belum lagi, orang-orang biasa; seperti wartawan, dan lawan politik dari partai lain. Semuanya menebar tuduhan bohong bahwa Ikhwan adalah kelompok teroris.
Padahal puluhan orang Ikhwan dari Mesir, Suriah, dan lainnya, yang telah membangun negara-negara Teluk. Ada guru, dosen, dokter, perawat, hakim, teknisi, konsultan, dan juga para pengusaha. Sudah sejak setengah abad yang lalu, orang-orang Ikhwan di Saudi dan Emirates seperti itu, dan tidak ada yang menuduh mereka sebagai teroris. Kenapa hari-hari ini, mereka tiba-tiba dituduh sebagai teroris? Tidak tanggung-tanggung, yang menuduh mereka adalah para raja dan penguasa. Seakan mereka berkata kepada As-Sisi, “Bunuhlah, kami yang mendanai. Bereskan mereka, dan engkau minta apa saja kepada kami.”
Karena ditindas penguasa, banyak kader Ikhwan yang menyebar ke seluruh dunia. Baik di dunia Arab, Eropa, maupun Amerika. Mereka adalah tokoh-tokah yang sudah terkenal, baik kepribadian, lembaga, maupun proyek-proyek mereka. Bagaimana mungkin saat ini kita dipaksa oleh para penguasa itu untuk mempercayai bahwa mereka adalah anggota kelompok teroris yang berbuat kekerasan, membunuh, dan sebagainya?
Semua orang akhirnya mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan mereka menuduh Ikhwan demikian. Para penguasa itu sedang memerangi kebebasan dan kehendak rakyatnya. Mereka memerangi kebangkitan dan kemajuan negara mereka. Mereka memerangi prototype pemerintahan yang baik. Sebentar lagi kedok mereka pasti akan tersingkap semuanya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/28/38638/ktt-kebohongan-tingkat-tinggi/#ixzz2dQXDW61c

Demonstrasi Tahun 1954, Sebuah Pelajaran Bagi Demokrasi Mesir

Pada tahun 1954, terjadi demonstrasi besar-besaran menolak kudeta militer yang dilakukan oleh Gamal Abdel Naser. Untuk membubarkan demonstran, lahirlah sebuah inisiatif solusi hasil kesepakatan antara Gamal dan Syeikh Abdul Qadir ‘Audah.
Isi inisiatif tersebut adalah akan segera melaksanakan pemilu secapatnya, dan tidak akan ada penangkapan terhadap para demonstran setelah mereka pulang ke rumah masing-masing.
Namun setelah demonstrasi dibubarkan, dan semua orang pulang ke rumah masing-masing, apa yang dilakukan militer? Mereka menangkap lebih dari 18 ribu orang dalam satu malam. Selain itu, Syeikh Abdul Qadir ‘Audah, Sayyid Qutb, dan Syeikh Farghali dihukum gantung.
Bukan hanya itu, sekitar 160 ribu orang dimasukkan penjara militer. 30 ribu orang di antaranya meninggal karena siksaan.
Pada tahun 1967 Mesir mengalami kekalahan perang yang sangat memilukan. Kebanyakan pengamat menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah karena militer berpolitik.
Kini Militer Mesir kembali berpolitik, dan penghianatan terhadap konstitusi yang sah sudah dimulai. Akankah sejarah kembali berulang?

Rakyat Takkan Biarkan Mesir Menjadi Negara Polisi

Aksi penangkapan para tokoh penentang kudeta beberapa hari terakhir ini ditanggapi ringan oleh pihak Koalisi Nasional. Jihad Al-Haddad, salah seorang juru bicara Ikhwanul Muslimin, menekankan bahwa rakyat Mesir tetap akan melanjutkan perlawanannya menolak kudeta. Mereka tidak akan membiarkan Mesir menjadi negara polisi.
Dalam akun twitternya Sabtu, 24 Agustus kemarin, beliau menanggapi bahwa walaupun para tokoh penentang kudeta ditangkapi, hal itu tidak akan menyurutkan perjuangan mereka. Karena rakyatlah yang memimpin revolusinya sendiri. Bukan tokoh atau elit politik tertentu.
Beliau melanjutkan, “Revolusi kami jelas. Target kami jelas. Konflik kami adalah menuntut keadilan. Tekad kami kuat. Selama jantung kami masih berdetak, kami takkan membiarkan berdirinya negara polisi, atau mendiamkan rejim militer menguatkan sendi-sendinya.”
Memang Jumat kemarin, masih banyak aksi demonstrasi di berbagai propinsi, tak terkecuali Kairo. Setidaknya ada 35 titik untuk memulai konvoi massa yang berkeliling kota. Massa tersebut berkumpul di beberapa masjid yang sudah ditentukan, sekaligus untuk melaksanakan shalat Jumat. Tanpa tokoh pun aksi demonstrasi tetap terlaksana. Jumlah pesertanya pun tidak berkurang walaupun ancaman kematian terus saja membayangi mereka.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/25/38507/rakyat-takkan-biarkan-mesir-menjadi-negara-polisi/#ixzz2dQV6JlHC

Rakyat Takkan Biarkan Mesir Menjadi Negara Polisi

Aksi penangkapan para tokoh penentang kudeta beberapa hari terakhir ini ditanggapi ringan oleh pihak Koalisi Nasional. Jihad Al-Haddad, salah seorang juru bicara Ikhwanul Muslimin, menekankan bahwa rakyat Mesir tetap akan melanjutkan perlawanannya menolak kudeta. Mereka tidak akan membiarkan Mesir menjadi negara polisi.
Dalam akun twitternya Sabtu, 24 Agustus kemarin, beliau menanggapi bahwa walaupun para tokoh penentang kudeta ditangkapi, hal itu tidak akan menyurutkan perjuangan mereka. Karena rakyatlah yang memimpin revolusinya sendiri. Bukan tokoh atau elit politik tertentu.
Beliau melanjutkan, “Revolusi kami jelas. Target kami jelas. Konflik kami adalah menuntut keadilan. Tekad kami kuat. Selama jantung kami masih berdetak, kami takkan membiarkan berdirinya negara polisi, atau mendiamkan rejim militer menguatkan sendi-sendinya.”
Memang Jumat kemarin, masih banyak aksi demonstrasi di berbagai propinsi, tak terkecuali Kairo. Setidaknya ada 35 titik untuk memulai konvoi massa yang berkeliling kota. Massa tersebut berkumpul di beberapa masjid yang sudah ditentukan, sekaligus untuk melaksanakan shalat Jumat. Tanpa tokoh pun aksi demonstrasi tetap terlaksana. Jumlah pesertanya pun tidak berkurang walaupun ancaman kematian terus saja membayangi mereka.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/25/38507/rakyat-takkan-biarkan-mesir-menjadi-negara-polisi/#ixzz2dQV6JlHC

Pengamat Zionis: Ada Airmata Darah Bila Kudeta Gagal

Seorang pakar tentang Yahudi, Dr. Shalih Nu’amy mengumpulkan banyak pengakuan para pengamat Yahudi yang membuktikan adanya kaitan erat antara Yahudi dan kudeta yang dilakukan oleh As-Sisi.
Di antaranya, pengakuan yang dikatakan oleh Dan Marglet, seorang jurnalis senior di surat kabar Israel Today. Beliau mengatakan, “Kami bangsa Yahudi akan menangis airmata darah bila membiarkan kudeta gagal dan Ikhwan kembali berkuasa.”
Dalam artikelnya, Marglet beralasan bahwa  jika ada beberapa negara bergerak memusuhi pemerintahan baru di Mesir, dan akhirnya Ikhwan kembali berkuasa, maka saat itu bangsa Yahudi harus mengambil tindakan yang impossible untuk mencegah hal itu terjadi. Karena kalau benar-benar terjadi, Ikhwan pasti akan segera membalas dendam kepada kami. Mereka tahu persis bahwa Tel Aviv terlibat dalam kudeta ini.
Marglet, yang dekat dengan Benyamin Netanyahu ini, mengatakan bahwa As-Sisi saat ini terlihat membabi-buta karena dia merasa akan segera gagal. Saat inilah waktunya bagi kami mengerahkan segala daya upaya untuk mendukung dan menguatkan posisinya. Ini adalah hidup-mati bagi kami.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/21/38346/pengamat-zionis-ada-airmata-darah-bila-kudeta-gagal/#ixzz2dQQOdTOm

Nasihat Aisyah Kherat Syathir kepada Akhawat Mesir

Aksi pengangkapan yang dilakukan militer pengkudeta sungguh sudah sangat menggila. Belasan ribu orang sudah dijebloskan ke penjara. Bahkan saat, mereka sudah tidak malu dan ragu lagi menangkapi kaum wanita.
Oleh karena itu, Aisyah, puteri Kherat Syathir, wakil Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin menuliskan sebuah nasihat dan wasiat kepada sesama muslimah di Mesir, seperti dimuat dalam situs ansarportsaid pada hari Rabu 28 Agustus:
“Aku berwasiat kepada diriku sendiri dan juga kepada akhawat sekalian untuk berpakaian lengkap dan berhijab ketika berada di dalam rumah, walaupun engkau sedang tidur. Kapan saja mereka bisa mendatangi kita.
Sama saja engkau tutup pintu rumahmu atau engkau biarkan terbuka. Sekarang sudah jamannya orang masuk rumah orang lain tanpa ijin.
Siapkanlah tas berisi pakaian dan kebutuhanmu untuk saat engkau ditangkap. Sama seperti biasanya engkau menyiapkannya untuk ayahmu saat dia ditangkap. Jangan lupa engkau siapkan senjatamu untuk engkau gunakan di dalam penjara nanti, yaitu mushaf Al-Qur’an.
Gantunglah selembar kertas atau apa pun yang bisa jelas dilihat, dan tulislah “Di negeriku, semua nilai telah hilang.”
Sejak sekarang berbicaralah kepada anak dan adik-adikmu yang masih kecil tentang kemungkinan engkau ditangkap. Berilah mereka pemahaman bahwa kalaupun hanya mereka yang tersisa di luar penjara, mereka harus melanjutkan jalan perjuangan. Beginilah perjalanan dakwah, kalau ayah sudah tidak bisa, maka anak-anaknya; kalau anak-anaknya sudah tidak bisa, maka bocah-bocah kecilnya.
Mintalah mereka berjanji untuk melanjutkan perjuangan, hingga tanah air ini kembali lagi kepada pangkuan rakyat.
Tinggalkanlah mereka dengan penuh harapan akan berjumpa lagi. Kalau tidak di atas bumi, maka pasti akan berjumpa di langit.
Keluarlah dari rumah dengan seraya memekikkan takbir kemenangan. Allah swt. lah yang akan memberikan kemenangan itu kepada kita.
Maka, kitalah wanita-wanita yang merdeka; sedangkan mereka (pengkudeta) sejatinya hanyalah budak sahaya.”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/30/38701/nasihat-aisyah-kherat-syathir-kepada-akhawat-mesir/#ixzz2dQPCar7n