Minggu, 08 September 2013

Inilah Beberapa Fakta di Mesir yang Disampaikan Utusan IM kepada Majelis Ormas Islam

Jum’at (6/9/2013) malam, Majelis Ormas Islam menerima kunjungan Dr. Ahmed Mohamed Fahmy El-Watidi yang merupakan utusan Ikhwanul Muslimin di kantor Dewan Dakwah. Dr. Ahmed menyampaikan beberapa fakta dan kondisi terakhir yang terjadi di Mesir saat ini. Hal tersebut disampaikannya di depan pengurus dan Para Presidium Majelis Ormas Islam yang merupakan para pimpinan ormas Islam di antaranya Mathla’ul Anwar, Persatuan Umat Islam (PUI), Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Al Ittihadiyah, Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), Wahdah Islamiyah, Persatuan Islam (PERSIS), Persatuan Tarbiyah Islam (PERTI), Syarikat Islam (SI).
Dr. Ahmen yang merupakan Chairman of International Affairs Ikhwanul Muslimun memaparkan bahwa kondisi yang terjadi saat ini di Mesir yang disebabkan kudeta Militer atas Presiden Mursi yang terpilih melalui proses Demokrasi yang sah.
Majelis Ormas Islam sendiri merupakan sebuah wadah perhimpunan bagi ormas-ormas Islam yang didirikan pada tanggal 16 Sya’ban 1434 H di Jakarta dan saat ini terdapat sembilan Ormas Islam yang telah menyatakan bergabung atas dasar kesamaan tujuan ingin memajukan umat Islam sesuai Pedoman Dasar Majelis Ormas Islam yang telah disepakati bersama.
Berikut ini adalah fakta dan kondisi terkini Mesir berdasarkan apa yang disampaikan oleh Dr. Ahmed Mohammed Fahmy El Watidi, sebagaimana rilis yang kami terima dari Majelis Ormas Islam:
  1. Bahwa Peristiwa Kudeta sejatinya telah direncanakan dari awal ketika Dr. Mursi terpilih, bahwa ada upaya makar dari Militer setelah 3 bulan terpilihnya Dr. Mursi sebagai Presiden dengan perencanaan penculikan Presiden oleh pihak militer, hal ini dapat dicegah karena informasi tersebut dibongkar oleh Abdul Fatah al-Sisi yang kala itu sebagai Pejabat Intelejen. Oleh karenanya, hal ini menjadi salah satu dari berbagai alasan di angkatnya As-Sisi menjadi Menteri Pertahanan.
  2. Setelah Dr. Mursi terpilih, banyak pihak (Militer, Polisi dan pendukung Husni Mubarak) yang melakukan pengkhianatan terhadap negara dan hasil Demokrasi yang Sah secara terencana mengacaukan situasi Masyarakat. Listrik di Mesir sangat sering Padam berbulan-bulan, ada pihak yang dengan sengaja membuang bensin di padang pasir dan beberapa penjual bensin ditekan untuk tidak beroperasi sehingga membuat kelangkaan bahan bakar yang menyulut kekesalan warga. Petugas kebersihan (sampah) disetting tidak beroperasi sehingga semua permasalahan disudutkan kepada Presiden yang baru terpilih.
  3. Negara-negara Arab dan Bank Dunia seketika menghentikan bantuannya terhadap Negara Mesir saat Dr. Mursi terpilih menjadi Presiden.
  4. Presiden Mursi sangat sabar dalam menjalankan amanahnya sekalipun Media Massa di Mesir selalu menyerang dengan pemberitaan yang menyudutkan dan pengkhianatan demi pengkhianatan terhadap negara, tetapi tidak ada dari mereka yang kala itu dipenjarakan seperti apa yang terjadi di rezim Husni Mubarak.
  5. Prestasi Mesir di Era Presiden Mursi dalam waktu yang terbatas dan penuh tekanan di mana Masyarakat Internasional tidak mengetahui karena pemberitaan yang tidak seimbang, di antaranya :
    1. Mesir dapat Panen Gandum setahun dua kali, padahal sebelumnya Mesir selalu Impor gandum.
    2. Mesir memiliki Tambang sendiri yang untuk keadilan Masyarakatnya dan Emas dengan kualitas yang baik. Padahal era sebelumnya hasil tambang Mesir, Gas dijual ke Israel dengan harga kisaran 10 % dari harga aslinya.
    3. Anda akan menemukan Mobil made Egypt, Komputer made Egypt bahkan “iPad” made Egypt.
    4. Aktivitas-aktivitas malam berupa penyakit masyarakat yang sering dilakukan pada era Husni Mubarak sekarang sudah banyak yang ditutup.
  6. Ketika Orang yang tidak mengetahui Ikhwanul Muslimin dan mengatakan bahwa kami Eksklusif (Ashobiyah) dalam mengelola negara dan ingin menguasai untuk kepentingan Pribadi, maka kami menjelaskan :
    1. Asas negara Mesir itu jelas Islam
    2. Anggota Dewan yang terpilih banyak dari kalangan ulama dan Hafiz yang terdiri dari beberapa partai (tidak hanya IM) sehingga produk Undang-undang nya sudah bisa kita prediksi
    3. Ikhwanul Muslimin hanya menjabat 4 dari 37 Menteri, menjabat 1 dari 4 Pembantu Presiden, menjabat 12 Gubernur dari total 27 Jabatan Gubernur, itu semua masih belum proporsional jika dikatakan ingin menguasai.
  7. Terkait Aksi demonstrasi kenapa kami melakukannya karena kami merasa dalam posisi yang benar, terlebih pimpinan kami sangat menghindari Medan Tahrir untuk mencegah bentrokan dan pertempuran, sehingga Rabiah Al Adawiyah menjadi salah satu menjadi pilihan kami. Tetapi militer dengan sengaja menekan dan hanya memberikan batas waktu 48 Jam bagi Presiden Mursi untuk menyelesaikannya yang pada akhirnya mereka melakukan pengambilalihan yang kini Masyarakat mulai paham bahwa itu adalah Kudeta.
  8. Korban yang berjatuhan setelah kami menghitungnya ialah sekitar 6.000 Orang mati Syahid, 20.000 orang luka-luka dan sekitar 10.000 orang ditangkap. Itu belum termasuk tambahan yang kemungkinan terjadi, karena saat ini ketika saya di sini, hari ini keluarga kami dan rakyat Mesir masih melakukan aksi demonstrasi. Militer melakukan pembantaian secara sadis dengan banyak cara termasuk Sniper, Tank-tank dan cara-cara lainnya.
  9. Bahwa sesungguhnya militer di Mesir sekarang ini dalam keadaan gemetar dan ketakutan. Mereka pun sudah merasa terzhalimi juga, karena uang-uang yang masuk ke Mesir ternyata hanya masuk ke kantong-kantong Jenderal-jenderal mereka. Sampai sekarang ini hanya ada beberapa negara yang mengakui, Eropa secara umum menentang dan meminta Jenderal al Sisi di adili. Gerakan Ormas-ormas di Dunia Internasional sekarang menuntut Jenderal al Sisi untuk di adili melalui Mahkamah Internasional.
Pada pertemuan tersebut, selain 9 ormas yang sudah tergabung, hadir juga Ormas LKI Al-hidayah dan Ormas DAINA. Presidium Majelis Ormas Islam yang pada kesempatan ini diwakili oleh H. Ahmad Sadeli Karim mengatakan, “bahwa agenda ini sebagai wujud Syukur dan perjuangan kita karena bagaimana pun Mesir khususnya Ikhwanul Muslimin pernah berjasa dalam Proses berlangsungnya Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Kamis, 05 September 2013

Di Fayoum, 2200 Imam Diberhentikan

Gamal Ali Yunus, seorang direktur di Kementrian Wakaf menyebutkan bahwa pihaknya telah memberhentikan 2200 imam masjid di propinsi Fayoum, Kamis (5/9/2013) kemarin. Eksekusi ini adalah untuk melaksanakan keputusan Menteri Wakaf, Muhammad Mukhtar Jum’ah, tentang pemutusan kontrak semua imam masjid yang bukan lulusan Al-Azhar.
Menurut Gamal, jumlah masjid di propinsi Fayoum mencapai 3200 masjid. Dari jumlah itu, hanya ada sekitar 1000 masjid yang diimami oleh lulusan Al-Azhar. Selain jumlah tersebut, diimami oleh non-lulusan Al-Azhar. Kebijakan ini tentunya akan mengakibatkan adanya masjid-masjid yang harus ditutup (sekitar 2200 masjid) sebelum ada imam penggantinya. Karena selain lulusan Al-Azhar, tidak ada imam yang dibolehkan beraktifitas.
Selama ini, demonstrasi-demonstrasi menentang kudeta selalu dimulai dari masjid. Biasanya, demonstrasi memuncak setiap pekannya pada hari Jumat. Orang-orang berkumpul melaksanakan shalat Jumat, lalu setelah itu bertolak dalam pawai-pawai menuju tempat berdemonstrasi. Dari sinilah, masjid menjadi sangat penting dalam krisis politik di Mesir. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Wakaf hanya bisa mengkontrol masjid-masjid yang imamnya diangkatnya dari kalangan lulusan Al-Azhar. Karena itulah diputuskan kebijakan bahwa setiap masjid harus diimami oleh lulusan Al-Azhar. Selain mereka, diputus kontrak dan izinnya.

Latar Belakang Ideologi dalam Kudeta Mesir

Dr. Fuad Bakrain Ash-Shufi
ungguh keliru orang yang beranggapan bahwa krisis di Mesir hanyalah sebuah konflik antara partai-partai politik dalam memperebutkan kekuasaan. Yaitu kekacauan akibat digulingkannya partai penguasa yang di dalamnya terdapat Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP) dan partai-partai yang berafiliasi gerakan Salafi (di antaranya Partai An-Nur).
Konflik yang sesungguhnya lebih dari sekadar politis. Sudah bersifat konflik ideologis. Konflik ini telah menggulingkan dan mengasingkan presiden yang dipilih secara demokratis. Partai-partai yang tadinya meraih kekuasaan dengan proses demokrasi, kini menjadi sasaran intimidasi dan pemberangusan. Negara, yang kemarin berada dalam alam demokrasi tanpa ada penindasan, kini menjadi arena peperangan antara pihak-pihak yang tidak berimbang.
Pengusung Islam dan pendukung demokrasi dibantai bukan karena mereka berbuat kesalahan dalam menjalankan pemerintahan, atau karena ada usaha ikhwanisasi seperti yang dituduhkan selama ini. Sebab utamanya adalah karena ada orientasi mayoritas rakyat Mesir yang lebih memilih proyek kebangkitan Islam. Mayoritas rakyat telah memilih para pengusung Islam (Ikhwanul Muslimin dan Salafi) untuk berkuasa menggantikan rejim polisi Mubarak. Mereka tidak memilih kaum liberal dan sekular yang telah lama gagal dalam memimpin negara-negara Arab dan memperjuangkan rakyatnya.
Rakyat Mesir berhasil memenangkan perubahan ini melalui dua etape; pemilu presiden dan referendum konstitusi. Perlu ditegaskan, konstitusi yang disetujui oleh 63% rakyat ini jauh lebih baik dari konstitusi-konstitusi dunia dalam hal perlindungan HAM bagi rakyat dan kaum minoritas.
Yang menyedihkan, Front “Penyelamatan” yang menjadi wadah kaum oposan pemerintahan Presiden Mursi, berhasil menarik sebagian pengusung Islam untuk bersama-sama menentang pemerintahan sipil-demokratis pertama di Mesir ini. Padahal tidak ada ideologi dan pemikiran yang mempersatukan atau mendekatkan mereka. Yang menyatukan mereka hanyalah ambisi untuk menggagalkan proyek Islam yang terwakili oleh Presiden Mursi dan pemerintahannya yang sah. Pengusung Islam itu terkesan tidak mempertimbangkan hal-hal buruk yang akan timbul akibat kudeta.
Di antara kelompok yang mengambil posisi menentang Ikhwan dan proyek Islamnya adalah Partai An-Nur yang berasal dari gerakan Salafi. Memang di antara ciri mereka adalah selalu membahas permasalahan akidah; dan tak jarang terjebak kepada mengkafirkan orang hanya karena kesalahan dan alasan yang kecil. Banyak sikap mereka yang menentang Ikhwan, mulai dari oposisi hingga menyetujui kudeta. Sebenarnya tidak ada sebab yang pantas untuk mengharuskan mereka bergabung dengan para oposan.
Koalisi Ikhwan-Salafi boleh dikatakan berakhir pada demonstrasi 1 Desember 2012. Terjadi silang pendapat dalam menyikapi kebijakan Presiden Mursi yang memberhentikan seorang tokoh Salafi yaitu Dr. Khalid ‘Alamuddin (ketua Partai An-Nur) dari jabatannya sebagai penasihat presiden. Pimpinan Partai An-Nur pun bergabung dengan barisan oposisi, yang pada akhirnya melakukan kudeta dan mengamandemen konstitusi untuk menghilangkan identitas Islam Mesir. Sampai sekarang pun partai ini masih sering mengambil tindakan dan kebijakan yang mengecewakan, dan bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip manhaj salafi yang mereka yakini.
Lebih dari itu, Partai An-Nur berkeinginan untuk menjadi wakil kubu Islam jika terjadi koalisi dengan kubu sekular. Kalau sudah demikian, bisa dipastikan akan banyak lagi prinsip yang dikorbankan demi menghalangi adanya pihak lain yang berusaha untuk menjadi wakil dari kubu Islam.
Beberapa waktu yang lalu pun salah seorang tokoh partai ini bahkan memposisikan dirinya sebagai seorang yang menasihati Ikhwanul Muslimin. Beliau meminta Ikhwan untuk menghentikan aksi-aksi demonstrasi, dan agar Ikhwan memeriksa kembali laporan-laporan yang diterimanya berkaitan dengan masih besarnya dukungan rakyat kepada Ikhwan. Tokoh ini seakan tidak melihat gelombang massa yang demikian besar, turun ke jalan bersama Ikhwan dalam demonstrasi-demonstrasi Jumatnya.
Latar belakang persaingan inilah yang telah membuat Salafi demikian memusuhi Ikhwanul Muslimin, bahkan menjadikan mereka musuh terbesar melebihi golongan yang lain atau bahkan partai-partai sekular sekalipun. Permusuhan inilah yang juga melatar-belakangi banyaknya buku yang ditulis untuk mengkritik Ikhwan selama ini.
Lalu, apakah mereka menyadari bahaya menyetujui kudeta dengan segala kejahatan politik dan kemanusiaanya?
* General Supervisor situs www.wefaqdev.net

Kasus Pemboman Bisa Perpanjang Kondisi Darurat

Koalisi Anti Kudeta mengecam aksi bom yang menarget iringan kendaraan mendagri Muhammad Ibrahim, Kamis (5/9/2013) kemarin. Dalam keterangan persnya, Koalisi menyatakan akan menentang setiap aksi kekerasan, walaupun aksi mengincar pihak yang telah mendhalimi rakyat. Menurutnya, saat ini yang harus diperjuangkan adalah kedaulatan hukum.
Lebih lanjut, koalisi mengkhawatirkan aksi ini akan dimanfaatkan penguasa kudeta untuk memperpanjang masa kondisi darurat yang hanya akan mengakibatkan semakin luasnya aksi penangkapan terhadap para pendukung demokrasi.
Kembali Koalisi menekankan, aksi-aksi Koalisi dalam menentang kudeta akan selalu bersifat damai. Aksi-aksi itu akan terus dilancarkan, karena kekuatan rakyat terletak pada aksi damainya.
Iringan kendaraan mendapatkan serangan bom pada hari Kamis (5/9/2013) pagi. Pihak depdagri menyebutnya sebagai usaha pembunuhan mendagri yang dilakukan kalangan teroris. Akibat aksi ini, empat orang mengalami luka-luka, dan menurut situs www.gate.ahram.org.eg, dua orang pelaku pemboman tewas.

Ikhwan Jahat; Preman Warga yang Baik

Dalam artikelnya di harian shorouk edisi Kamis (5/9/2013), Fahmi Huwaidi menuliskan keheranannya dengan cepatnya keberhasilan kepolisian menangkap tokoh-tokoh Ikhwan. Sedangkan di waktu yang sama, mereka selalu gagal menangkap preman-preman yang terlibat dalam pembakaran kantor-kantor polisi dan beberapa gereja.
Beliau tidak memiliki jawaban atas keheranan ini. Hanya saja ada dua kemungkinan; pertama karena memang faktanya demikian, dan kedua karena ada niat buruk dari kepolisian dalam masalah ini.
Menurutnya, kalau ini memang fakta, maka menangkap orang-orang yang tak berdosa memang sangat mudah. Mereka orang-orang yang tidak mempunyai niat jahat, apalagi melakukannya. Sehingga identitas, tempat tinggal, tempat kerja, kerabat, dan rekan mereka jelas. Sangat mudah menangkap orang seperti ini. Sedangkan mengejar preman dan orang-orang kriminalis bisa dikatakan sulit. Karena mereka selalu berusaha lari dari kejaran pihak yang berwajib dengan cara menghilangkan jejak.
Adapun kalau ada niat buruk dari kepolisian, maka mengulur waktu dalam menangkap tersangka aksi perusakan adalah bertujuan agar kepolisian bisa menuduh siapa saja sebagai pelakunya. Kesempatan terbuka untuk menuduh siapa saja, termasuk memburukkan citra Ikhwan sebagai orang jahat, dan menampilkan preman sebagai warga yang baik.
Tindakan seperti ini, lanjutnya, bisa berakibat kepolisian kehilangan muka. Yaitu ketika nanti terbukti bahwa yang terlibat adalah benar-benar preman yang saat ini disebut sebagai warga yang baik, bukan Ikhwan yang saat ini dicap sebagai orang jahat.

Rabu, 04 September 2013

Hari Ini, Demonstrasi Besar-besaran “Kudetalah Terorisnya”

Hari ini, Selasa 3 September 2013, rakyat Mesir kembali mengadakan demonstrasi besar-besaran melawan kudeta militer dengan tema “Kudetalah Terorisnya”. Demonstrasi ini termasuk dalam rentetan demonstrasi pekan “Rakyat Menyempurnakan Revolusinya” yang telah dirancang oleh Koalisi Anti Kudeta.
Demonstrasi ini dilakukan setelah kudeta militer berlalu dua bulan, setelah dua bulan juga rakyat Mesir hidup dalam kesulitan paling parah dalam sejarah Mesir. Dalam demonstrasi yang dilakukan di berbagai propinsi ini, dilakukan konferensi pers yang membeberkan kejahatan-kejahatan penguasa kudeta terhadap pendukung demokrasi.
Pihak Koalisi Pro Demokrasi Anti Kudeta juga meminta rakyat Mesir untuk meyakini pertolongan Allah swt. karena tanda-tana kehancuran kudeta telah demikian nyata dilihat. “Janganlah kalian meremehkan keteguhan dan pengorbanan kalian dalam berdemonstrasi dan berpawai untuk meneriakkan kebenaran, kebebasan, keadilan, dan kemuliaan. Lihatlah bagaimana pemerintahan tergoyang karena kumpulan-kumpulan massa yang besar ini.”
Sedangkan pihak Ikhwanul Muslimin mengumumkan bahwa masa untuk tidur telah berlalu. Ikhwan juga menganggap bahwa jumlah massa yang sangat besar berdemonstrasi pada hari Jumat yang lalu menunjukkan bahwa rakyat Mesir tidak bisa tenang sebelum penguasa kudeta ini ditumbangkan. Setelah 30/8, rakyat Mesir tidak akan tidur tenang. Mereka akan selalu memenuhi jalanan dalam aksi damai mengembalikan revolusi mereka.

Upaya Pembunuhan Putra Mahkota Emirat di Mesir

Konvoi kendaraan yang membawa putra mahkota Emirat, Muhammad bin Zaid Ali Nahyan, mendapatkan serangan senjata api ketika sedang beriringan menuju bandara internasional Kairo Senin dinihari (2/9/2013) yang lalu. Peristiwa ini tidak dipublikasikan Media. Demikian diberitakan kantor berita Lail Nahar yang mendapatkan informasi ini dari sebuah sumber khusus, Rabu (4/9/2013), dalam situsnya twsela.com.
Serangan dari pihak yang tak dikenal itu dilakukan dengan cukup bertubi-tubi. Salah satu mobil dalam iringan itu terkena tembakan. Karena tidak diketahui sumber tembakannya, tim pengaman iringan membalas dengan tembakan membabi-buta.
Tembakan ini menyebabkan beberapa rumah dan mobil di sekitar terkena tembakan. Orang-orang yang berada di lokasi kejadian juga kalang-kabut mendengar tembakan-tembakan itu. Adapun mobil yang membawa putera mahkota secepat kilat meluncur ke airport untuk selanjutnya terbang dengan pesawat pribadinya.
Berita kejadian ini dibantah oleh kedutaan Emirat di Kairo. Menurut mereka, yang terjadi hanyalah sebuah kecelakaan lalu lintas. Walaupun di waktu dinihari, saat penerapan larangan keluar rumah, tentu kecelakaan lalu lintas sangat kecil kemungkinan terjadi. Apalagi tempat kejadian adalah jalan menuju airport yang bukan kawasan padat.
Sebagaimana banyak diberitakan, Emirat termasuk negara Teluk yang mendukung kudeta militer di Mesir, dan memberikan bantuan dana sangat besar kepada pemerintah kudeta.